Actions

Work Header

Bottom On Top

Summary:

Seo Seongeun yang angkuh, harus menelan harga dirinya setelah kalah dalam taruhan panas melawan Kim Gimyung yang membuktikan siapa pihak yang sebenarnya memegang kendali. Meski sempat sesumbar sebagai pihak dominan di hadapan rekan-rekan rahasianya, Seongeun akhirnya tak berdaya dan hancur total di bawah dominasi Gimyung.

Notes:

TOP! Gimyung BOT!Seongeun

Mamah Seo🤤 itadakimasuu😋😋

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Ruangan markas rahasia itu dipenuhi kepulan asap rokok tipis dan aroma kemalasan yang kental. Di sudut sofa kulit yang terlihat mahal, Seo Seongeun tampak asyik dengan ponselnya. Jemarinya bergerak lincah di atas layar, sesekali menyesap kopi kaleng tanpa melepaskan pandangan dari benda digital tersebut. Ketenangan itu pecah saat suara cempreng milik Junggoo memecah keheningan.

"Seo, aku penasaran," Junggoo menyilangkan kaki di atas meja, memutar-mutar kacamata hitamnya. "Kau dan si bocah Big Deal itu... Sebenarnya hubungan kalian itu apa sih?."

Seongeun tidak bergeming, meski otot rahangnya sedikit mengeras. "Bukan urusanmu, Dia hanya rival yang sesekali berguna untuk kupakai."

Mendengar itu, Lee Taesung yang sedang asyik mengunyah camilan di sebelah mereka langsung menyeringai lebar. "Rival? Halah, jangan bohong. Aku lihat kalian berdua keluar dari hotel di Gangnam minggu lalu. Muka si Kim Gimyung itu puas sekali, sementara kau jalan saja seperti baru saja dilindas truk kontainer."

Suasana mendadak riuh. Cheon Taejin, yang sejak tadi hanya menyimak dari bayang-bayang, ikut terkekeh rendah. "Bagaimana kalau kita bertaruh!!"

"Wah, ide bagus!" Junggoo berseru antusias, matanya berbinar licik. "Aku taruh sepuluh juta won kalau Seongeun yang berada di bawah."

"Aku ikut Junggoo," Taesung menimpali sambil tertawa mengejek. "Seratus ribu won untuk Gimyung yang memegang kendali. Si kacamata ini pasti cuma bisa pasrah."

Taejin mengangkat bahu, "Aku juga di pihak Gimyung. Instingku jarang meleset."

Seongeun akhirnya membanting ponselnya ke atas sofa. Ia berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit kusut dengan gerakan angkuh yang dipaksakan. Matanya menatap tajam ketiga pria di hadapannya.

"Kalian benar-benar bodoh ya?" Seongeun mendengus, menyunggingkan senyum paling sombong yang bisa ia buat. "Tentu saja aku yang berada di atas. Aku yang memegang kendali, termasuk si bodoh dari Gangseo itu. Dia tidak lebih dari sekadar mainan yang kutaklukkan berkali-kali sampai dia tidak bisa bicara. Aku adalah pihak yang di atas. camkan itu baik-baik."

Ia membuang muka, kembali duduk dengan gaya yang seolah-olah mengukuhkan ucapannya. Suasana di markas rahasia itu mendadak hening ketika getaran kencang dari ponsel Seongeun di atas sofa. menimbulkan bunyi dengung yang mengganggu. Layar ponsel yang menyala terang itu memamerkan sebuah nama yang sedari tadi menjadi bahan taruhan "Si Bodoh dari Gangseo"

Junggoo langsung menyeringai lebar, matanya berkilat jenaka di balik kacamata. "Panjang umur. Siapa tahu peliharaanmu ingin melaporkan kegiatannya pada tuannya?"

Seongeun berdeham pelan, berusaha menjaga raut wajahnya tetap sedatar mungkin. Dengan gerakan elegan yang sengaja dibuat, ia menekan tombol hijau.

"Ada apa, Gimyung? Aku sedang sibuk" ujar Seongeun
Dari seberang telepon, suara berat Gimyung terdengar.

"Seongeun? Kau di mana? Cepat datang ke tempat biasa sekarang. Aku sudah menunggu hampir satu jam."

Seongeun melirik ke arah Taesung dan Taejin yang mulai menahan tawa. Ia pun mengeraskan suaranya, "Aku bilang aku sibuk! Kau tunggu saja di sana sampai aku punya waktu untuk menemuimu. Mengerti?"

Ada jeda sejenak di seberang telepon. Kemudian, suara Gimyung berubah menjadi lebih rendah. "Oh, jadi kau mau bermain keras kepala lagi? Baiklah. Tapi jangan salahkan aku kalau besok kau tidak bisa duduk tegak di depan teman-temanmu itu karena pinggangmu encok lagi. Cepat ke sini, atau aku yang akan menjemputmu dan menyeretmu pulang ke apartemen."

*𝘉𝘐𝘗𝘗 𝘉𝘐𝘗𝘗 Sambungan terputus.

Hening. Sunyi senyap menyergap ruangan itu selama beberapa detik sebelum akhirnya ledakan tawa Junggoo pecah hingga ia hampir terjatuh dari kursinya. Taesung sampai tersedak camilannya, sementara Taejin hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menatap Seongeun dengan tatapan kasihan.

"Wah, teman kita ini ternyata punya masalah pinggang ya?" Junggoo terpingkal-pingkal sembari memukul meja. "Seongeun, sepertinya uang taruhanku aman di kantongku sendiri."

Wajah Seongeun memerah padam, menjalar hingga ke telinganya. Ia segera menyambar ponselnya dan berdiri dengan terburu-buru, hampir menabrak meja di depannya.

"Ya, ya, silakan pergi menemui 'peliharaanmu' itu, Seongeun. Hati-hati dengan pinggangmu!" teriak Taesung diiringi tawa mengejek yang menggema di seluruh ruangan.

Tanpa menoleh lagi, Seongeun melangkah keluar dengan langkah seribu, menyumpahi Kim Gimyung dalam hati sembari membayangkan penjelasan apa yang harus ia berikan besok untuk menambal harga dirinya yang baru saja hancur berkeping-keping.

Langkah kaki Seongeun menghentak trotoar dengan gusar. Giginya bergelatuk rapat, menahan umpatan yang sudah di ujung lidah. Begitu ia sampai di depan gedung apartemen yang menjadi "𝘵𝘦𝘮𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘪𝘢𝘴𝘢" mereka, ia melihat sosok jangkung Kim Gimyung sedang bersandar santai di kap mobil, seolah tidak baru saja menghancurkan reputasi Seongeun di depan sekutu-sekutunya.

"Kau!" Seongeun langsung menudingkan telunjuknya tepat di depan hidung Gimyung begitu mereka berhadapan. "Apa yang kau katakan di telepon tadi, hah?! Kau tahu aku sedang bersama siapa?"

Gimyung hanya menaikkan sebelah alisnya, tampak tidak terganggu sedikit pun oleh ledakan amarah itu. "Bersama teman-teman rahasiamu itu? Si pirang gila dan si tukang makan itu?"

"Mereka bukan teman! Mereka rekan bisnis! Dan kau baru saja membuat mereka berpikir kalau aku... Arghhh..." Seongeun tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

"Kalau kau apa? Kenyataannya memang begitu, kan?" Gimyung melangkah maju, memperpendek jarak hingga Seongeun terpaksa mendongak sedikit. "Kau yang memintaku datang tadi malam, kau juga yang terus-terusan menarik kerah bajuku agar aku tidak berhenti dan pergi. Kenapa sekarang kau malah marah?"

Wajah Seongeun memanas. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang yang mendengar percakapan memalukan ini. "Tutup mulutmu! bukan berarti kau bisa bicara omong kosong di depan orang lain!"

Gimyung terkekeh rendah, sebuah suara yang selalu berhasil membuat bulu kuduk Seongeun meremang. Ia menarik pinggang Seongeun dengan kasar, merapatkan tubuh mereka hingga pria berkacamata itu kehilangan keseimbangan sejenak.

"Dengar, Seongeun," bisik Gimyung tepat di telinganya, suaranya kini terdengar sangat posesif. "Kau boleh berpura-pura menjadi raja di luar sana. Kau boleh membual sesukamu tentang betapa hebatnya kau di hadapan Junggoo atau siapa pun itu. Aku tidak peduli."

Gimyung menjauhkan sedikit wajahnya, menatap langsung ke dalam manik mata Seongeun yang bergetar. "Tapi begitu pintu apartemen itu tertutup, jika kau masih ingin bisa berjalan dengan normal besok pagi, sebaiknya hentikan sikap angkuhmu itu sekarang juga."

Seongeun terdiam. Semua argumen yang sudah ia susun di kepala mendadak menguap begitu saja. Ia ingin membantah, ingin memukul wajah tampan yang menyebalkan itu, tapi tubuhnya justru mengkhianatinya dengan sedikit gemetar.

"Ayo naik," perintah Gimyung sembari menarik tangan Seongeun menuju lobi. Seongeun hanya bisa mengikuti dengan langkah gontai, kepalanya tertunduk lesu.

Begitu daun pintu apartemen tertutup dengan bunyi 𝘒𝘓𝘐𝘒, suasana seketika berubah drastis. Tanpa peringatan, Gimyung menyambar tengkuk Seongeun, menariknya kasar dan mendaratkan ciuman brutal yang membungkam semua protes yang sempat ingin keluar dari bibir pria berkacamata itu. Seongeun terdorong hingga punggungnya menghantam pintu, napasnya langsung memburu saat lidah Gimyung menyapu rongga mulutnya dengan penuh gairah.

"Mmph—Gimyung!" Seongeun berhasil melepaskan pautan itu sejenak, wajahnya merah padam dengan kacamata yang sudah miring tak beraturan. "Sabar sedikit, kau benar-benar seperti binatang!"

Bukannya berhenti, Gimyung justru menyeringai tipis, jemarinya mulai membuka paksa kancing kemeja mahal Seongeun satu per satu sambil menyeretnya menuju kamar utama. Seongeun, meski mulutnya terus menggerutu, kakinya melangkah patuh mengikuti tarikan tangan yang jauh lebih kuat darinya itu.

Begitu tubuhnya terjatuh di atas kasur yang empuk, Seongeun segera bangkit duduk, menahan dada Gimyung yang hendak menindihnya. Ia mengatur napasnya yang berantakan, mencoba memungut sisa-sisa harga diri yang tadi tercecer di markas Junggoo.

"Tunggu dulu," ujar Seongeun, meski matanya sayu karena gairah. "Aku punya permintaan."

Gimyung berhenti, menatapnya dengan tatapan bertanya. "Pemintaan? Disaat seperti ini?"

Seongeun berdeham, membuang muka ke arah samping agar tidak perlu menatap mata tajam Gimyung. "Sekali-kali... aku ingin menjadi pihak atas. Biarkan aku yang memegang kendali malam ini."

Keheningan sesaat menyelimuti kamar itu. Seongeun bisa merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa ia bisa menjadi pihak 𝘛𝘖𝘗.

"Aku serius, Gimyung," lanjut Seongeun lagi, kali ini dengan nada lebih tegas sembari menarik kerah baju Gimyung agar mendekat. "Aku ingin kau yang menurut padaku malam ini. Aku ingin jadi 𝘛𝘖𝘗 sekali saja."

Gimyung terdiam sejenak, memperhatikan wajah Seongeun yang tampak sangat serius namun sekaligus sangat menggemaskan dengan semburat merah di pipinya. Perlahan, senyum miring yang sulit diartikan muncul di bibir Gimyung. Ia melepaskan tangan Seongeun dari kerahnya dan justru merentangkan kedua tangannya di atas kasur, seolah-olah menyerahkan diri.

"Oh? Begitu ya?" Gimyung menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, memperhatikan Seongeun yang tampak sangat percaya diri untuk mendapatkan izin. Namun, senyum Gimyung bukanlah senyum kekalahan, itu adalah senyum seorang predator yang sedang memasang perangkap.

"Baiklah, Seongeun. Aku akan menurut," ujar Gimyung tenang, namun matanya berkilat licik. "Tapi ada satu syarat. Kita mainkan taruhan kecil"
Seongeun menaikkan alis, mencoba tetap terlihat dominan. "Katakan saja. Aku tidak takut."

"Lima menit," Gimyung mengangkat lima jarinya. "Dalam lima menit ini, aku akan melayanimu. Tapi kalau kau sampai menyerah atau kau 𝘤𝘶𝘮 sebelum waktu habis, kau kalah. Kau harus mengakui kekalahanmu dan kembali menjadi penurut malam ini. Bagaimana?"

Seongeun mendengus remeh. "Hanya lima menit? Kau meremehkanku, Gimyung. Aku punya kontrol diri yang jauh lebih tinggi darimu."

"Kita lihat saja," balas Gimyung singkat. Ia mengambil handphone dan mengaktifkan 𝘴𝘵𝘰𝘱𝘸𝘢𝘵𝘤𝘩.

Tanpa membuang waktu, Gimyung menarik Seongeun agar duduk di tepi ranjang. Gimyung berlutut di hadapan pria berkacamata itu. Seongeun mencoba mempertahankan postur tubuhnya yang tegak, melipat tangan di depan dada seolah-olah ia adalah raja yang sedang ditancap sembah.

Namun, begitu jemari Gimyung mulai menanggalkan sisa pakaian bawahnya, pertahanan mental Seongeun mulai goyah.

Gimyung memulai blowjobnya dengan sangat ahli. Ia tidak terburu-buru; ia tahu persis titik-titik sensitif Seongeun. Lidahnya bergerak dengan ritme yang menggoda, menciptakan sensasi panas yang menjalar cepat ke seluruh saraf Seongeun.

"Ngh..." Seongeun meremas seprai di belakangnya, berusaha keras menahan suara yang ingin lolos dari tenggorokannya. "𝘉𝘢𝘳𝘶 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘵" batinnya berteriak, matanya terpejam rapat saat merasakan kehangatan mulut Gimyung yang menyelimutinya.

Gimyung mendongak sejenak, menatap Seongeun dari bawah dengan pandangan provokatif, seolah mengejek usaha keras Seongeun untuk tetap diam. Ia kemudian mempercepat gerakannya, menghisap dengan kuat hingga pipinya terlihat cekung. Memainkan ujung penis Seongeun dengan lidahnya. Ia menggunakan tangannya untuk memainkan testis Seongeun. Menambah rangsangan yang membuat lutut Seongeun mulai terasa lemas.

"S-sialan kau, Gimyung..." umpat Seongeun lirih, napasnya mulai terputus-putus. Kacamata yang ia pakai kini sudah melorot ke ujung hidung, menampakkan tatapan mata yang sayu dan penuh damba.

Setiap detik terasa seperti satu jam bagi Seongeun. Ia mencoba memikirkan hal lain, neraca keuangan Ilhae, wajah menyebalkan Junggoo, apa saja, tapi sensasi yang diberikan Gimyung terlalu intens untuk diabaikan.

Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya, kontras dengan hawa panas yang membakar pusat sarafnya. Begitu Gimyung melepaskan pagutannya, Seongeun nyaris jatuh terbaring jika tidak segera menahan diri pada pinggiran ranjang. Ia terengah-engah, menatap Gimyung dengan sisa-sisa tatapan angkuh yang kini tampak sangat rapuh.

"Waktunya.." desis Seongeun, suaranya parau. Ia mencoba menyunggingkan senyum kemenangan yang dipaksakan.

Gimyung tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya menyeringai, sebuah ekspresi yang membuat bulu kuduk Seongeun berdiri. Tanpa peringatan, Gimyung mendorong bahu Seongeun hingga pria berkacamata itu jatuh terlentang di atas kasur.

"Memang belum," bisik Gimyung rendah. "Dan aku baru saja mulai pemanasan."

Gimyung mulai bergerak naik, merayap di atas tubuh Seongeun seperti pemangsa yang sedang menikmati buruannya. Lidahnya mulai menelusuri setiap jengkal kulit Seongeun. Mulai dari rahang, turun ke leher yang berdenyut kencang, meninggalkan bekas kemerahan yang banyak.

Selanjutnya adalah dada, gimyung sangat senang ketika bermain dengan dada Seongeun. "Seongeun, jika kau hamil pasti dadamu akan bertambah besar" Gimyung meremas dada Seongeun dengan kencang. "Nghh, Tutup mulutmu!" Balas Seongeun. Gimyung mulai memasukkan puting coklat kemerahan itu kemulutnya, menyedot dan menggigit kecil. Sementara tangan yang lain meremas dan memelintir puting di dada yang satunya. Hal itu sukses membuat Seongeun kelonjotan.

Seongeun mencengkeram seprai erat-erat, giginya menggigit bibir bawah demi menahan erangan yang hampir meledak. "Ngh... G-Gimyung... hentikan itu..." rintih Seongeun, meski tubuhnya justru melengkung mendekat, seolah mengkhianati kata-katanya sendiri.

Gimyung mengabaikan protes lemah itu. Setelah puas menyusu, Ia turun lebih jauh, meninggalkan jejak kemerahan di sepanjang perut Seongeun yang berotot namun kini gemetar hebat. Aksi Gimyung terasa begitu menyesakkan sekaligus memabukkan.

Puncaknya adalah ketika Gimyung menarik kedua kaki Seongeun, melipatnya ke dada hingga posisi pria itu benar-benar terbuka dan tak berdaya. Tanpa ragu, Gimyung membenamkan wajahnya di antara paha dalam Seongeun, mulai menjilati area sensitif di sana, termasuk lubangnya yang masih tertutup rapat namun mulai berkedut karena rangsangan.

"A-ah! Sialan... Kim Gimyung!" Seongeun berteriak kecil, kepalanya mendongak ke belakang dengan mata yang berputar sayu.

Sensasi basah dan hangat di area yang paling pribadinya itu benar-benar meruntuhkan logikanya. Seongeun merasa seolah harga dirinya sedang dijilat habis oleh Gimyung.

Seongeun sudah berada di ambang batas kesadarannya. Napasnya tersengal parah, memenuhi keheningan kamar yang kini hanya menyisakan suara decapan basah dan rintihan tertahan.

Setelah memastikan area tersebut cukup terlubrikasi oleh lidahnya, Gimyung mulai memasukkan jari pertamanya dengan perlahan.

"Ngh—!" Seongeun tersentak, punggungnya melengkung drastis dari permukaan kasur. Matanya yang sayu itu menatap Gimyung dengan campur aduk antara amarah dan damba.

Gimyung tidak memberikan napas sedikit pun. Jari kedua menyusul masuk, meregangkan otot-otot Seongeun yang berkedut gugup. Gerakannya ritmis, menekan titik-titik yang membuat seluruh tubuh Seongeun dialiri sengatan listrik.

Gimyung kembali merayap naik. Sembari jemarinya terus bekerja di bawah sana semakin dalam. Gimyung membenamkan wajahnya di dada Seongeun. Ia kembali menyusu dengan kuat, menciptakan sensasi ganda yang menyerang Seongeun dari dua arah sekaligus.

"G-Gimyung... ah! Berhenti... k-kau curang!" rintih Seongeun dengan suara yang sudah pecah total.

Kedua tangannya yang besar kini meremas rambut Gimyung, bukan untuk mendorongnya menjauh, melainkan untuk menahan rasa nikmat yang hampir tak tertahankan. Sensasi tarikan di dadanya dan tusukan jari di bawah sana benar-benar membuatnya kelabakan. Fokusnya terpecah, ia tidak tahu harus fokus menahan erangan dari mulutnya atau menahan kontraksi di bagian bawah tubuhnya.

"Waktunya hampir habis, Seongeun," gumam Gimyung di sela kegiatannya, suaranya bergetar rendah di atas kulit dada Seongeun yang panas. "Tiga puluh detik lagi. Masih sanggup?"

Jari-jari Gimyung bergerak semakin cepat, menekuk di dalam untuk memicu reaksi yang lebih hebat. Seongeun menggelengkan kepalanya frustrasi, air mata tipis mulai menggenang di sudut matanya, bukan karena sakit, tapi karena rasa frustrasi akibat tubuhnya yang begitu patuh pada sentuhan musuh sekaligus kekasihnya ini.

Sepuluh detik terakhir terasa seperti neraka yang paling manis bagi Seongeun. Seluruh otot tubuhnya menegang hebat, urat-urat di lehernya menonjol saat ia berusaha mati-matian menahan gelombang kenikmatan yang sudah mencapai ujung tanduk. Ia menggigit bibirnya begitu keras hingga rasa anyir darah sedikit terasa, matanya melotot menatap langit-langit kamar yang tampak berputar.

"S-sepuluh... d-detik..." desis Seongeun di sela giginya yang bergeletuk, mencoba menghitung mundur demi sisa-sisa harga dirinya yang sudah compang-camping.

Namun, Gimyung bukan orang yang akan membiarkan mangsanya lolos begitu saja. Melihat Seongeun yang masih berusaha bertahan, Gimyung memberikan serangan penghancur. Ia memperkuat hisapannya pada dada Seongeun hingga meninggalkan bekas kemerahan yang mencolok, sementara di bawah sana, jemarinya bergerak dengan kecepatan dan tekanan maksimal, menusuk tepat di titik yang paling sensitif secara berulang-ulang.

"Lima..." Gimyung bergumam rendah, suaranya bergetar tepat di atas kulit Seongeun.

"A-ah... Gimyung... t-tunggu—!"

"Empat... tiga..."

Gerakan jemari Gimyung semakin brutal, menciptakan suara decapan basah yang memenuhi ruangan. Seongeun kelonjotan tidak karuan.

"Dua... satu."

"GIMYUNG—!"

Seongeun berteriak parau saat tubuhnya menyentak hebat. Ia menyemburkan sperma di tangan Gimyung dan di atas perutnya sendiri tepat saat hitungan berakhir. Napasnya langsung putus-putus, matanya berputar ke atas, dan tubuhnya lunglai tak berdaya di atas kasur seperti boneka yang talinya diputus. Kacamata mahalnya sudah hilang entah kemana. Bertepatan dengan itu bunyi alarm dari hp menandakan waktu sudah habis.

Hening sejenak, hanya terdengar suara napas Seongeun yang berantakan dan berat. Gimyung perlahan mengangkat wajahnya, menyeka bibirnya dengan punggung tangan, lalu menatap Seongeun dengan senyum kemenangan yang paling menyebalkan sedunia.

"Waktunya habis, Seongeun," bisik Gimyung lembut, "Dan kau keluar duluan."

Gimyung merangkak naik, menindih tubuh Seongeun yang masih lemas dan gemetar pasca-orgasme. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Seongeun yang merah padam.

"Sesuai perjanjian. Tapi aku akan membiarkanmu menjadi pihak atas kali ini"

Gimyung melepaskan kungkungannya, lalu berbaring telentang di tengah ranjang dengan tangan yang dilipat santai di belakang kepala. Ia menatap Seongeun yang masih berusaha mengumpulkan nyawanya dengan seringai kemenangan yang tak kunjung luntur.

"Karena kau tadi begitu percaya diri ingin menjadi top dan sempat menantangku, maka hukumannya sederhana, Kau ingin berada di atas, kan? Silakan. Naiklah." Ujar Gimyung

Seongeun mengerjapkan matanya yang masih berair, menatap Gimyung tidak percaya. "Maksudmu...?"

"Lakukan semuanya sendiri," potong Gimyung cepat. "Aku tidak akan menggerakkan satu jari pun. Aku tidak akan membantumu, tidak akan memegang pinggangmu, apalagi mendorongmu. Kalau kau berhenti, atau kalau kau tidak bisa membuatku puas hanya dengan usahamu sendiri, aku akan memberitahu temanmu tentang apa terjadi selama ini"

Wajah Seongeun memucat. Dengan tubuh yang masih gemetar dan otot kaki yang terasa seperti jeli, ia merangkak pelan, memposisikan dirinya di atas tubuh Gimyung yang kokoh.

Seongeun duduk di atas paha Gimyung, menatap milik Gimyung yang sudah menegang sempurna. Ia menelan ludah dengan susah payah. Melakukan bottom on top membutuhkan tenaga ekstra, dan ia sudah cukup lelah karena sesi sebelumnya.

"Kenapa diam saja? Katanya tadi kau yang memegang kendali," ejek Gimyung, matanya menatap tajam, benar-benar tidak bergerak sedikit pun sesuai janjinya.

Dengan tangan gemetar, Seongeun memegang milik Gimyung, mengarahkannya ke lubangnya sendiri yang sudah basah dan terbuka akibat ulah Gimyung tadi. Ia perlahan menurunkan tubuhnya, merasakan sensasi penuh yang mendesak masuk.

"Ngh... ahh..." Seongeun memejamkan mata rapat-rapat, tangannya bertumpu pada dada bidang Gimyung untuk mencari keseimbangan.

"Terus, Seongeun. Aku tidak merasakan apa-apa kalau kau hanya diam seperti itu," perintah Gimyung dingin, meski urat di lehernya mulai menonjol menahan nikmat.

Seongeun mulai menggerakkan pinggulnya naik dan turun. Awalnya lambat dan canggung, namun lama-kelamaan ia mulai menemukan ritmenya. Keringat mulai membasahi seluruh tubuhnya, jatuh menetes ke atas kulit Gimyung. Suara napasnya yang memburu dan bunyi penyatuan mereka memenuhi kamar yang remang-remang itu.

Ia merasa sangat malu. Posisi ini membuatnya merasa sangat terekspos, seolah ia benar-benar sedang menyerahkan dirinya secara total. Setiap kali ia merasa lelah dan ingin berhenti, tatapan menuntut dari Gimyung memaksanya untuk terus bergerak.

"A-ah... Gimyung... k-kau... benar-benar brengsek..." rintih Seongeun, kepalanya terkulai lemas, namun pinggulnya terus bekerja keras demi menuntaskan hukuman ini.

Gimyung hanya memperhatikan dari bawah, menikmati pemandangan bagaimana seorang Seo Seongeun yang angkuh dan sombong sekarang sedang bersusah payah demi memuaskannya. Gimyung benar-benar menepati janjinya; tangannya tetap diam di belakang kepala, membiarkan Seongeun melakukan seluruh pekerjaan berat itu sendirian.

Keringat kini bercucuran dari pelipis Seongeun, membasahi perut dan dada Gimyung yang berada di bawahnya. Napasnya sudah putus-putus, dan otot paha serta pinggangnya mulai terasa sakit karena terus-terusan memompa tubuhnya sendiri. Namun, Gimyung tetaplah Gimyung, ia hanya berbaring dengan angkuh, menatap Seongeun seolah sedang menonton pertunjukan komedi yang menarik.

"Kenapa melambat? Kau sudah lelah?" tanya Gimyung dengan nada yang sangat datar, sengaja memprovokasi.

Seongeun mendengus, mencoba menstabilkan gerakannya. "D-diamlah..."

Ia merasa frustrasi. Karena ia harus menopang berat tubuhnya sendiri dan mengatur ritme, ia tidak bisa merasakan sensasi brutal yang biasa Gimyung berikan saat pria itu yang memegang kendali. Rasanya ada yang kurang. Ia merindukan bagaimana Gimyung menghantamnya tanpa ampun hingga ia kehilangan kesadaran. Gerakannya sendiri terasa terlalu lembut, terlalu lambat, dan itu membuatnya tidak puas.

Melihat Gimyung yang benar-benar mematung seperti patung batu, Seongeun mengambil tindakan nekat. Dengan wajah yang sudah merah padam karena malu, ia melepaskan satu tangannya dari dada Gimyung dan membawanya ke dadanya sendiri.

Gimyung menyipitkan mata, sedikit terkejut melihat apa yang dilakukan Seongeun. Seongeun mulai memainkan putingnya sendiri, memuntir dan menariknya dengan jemarinya, mencoba menciptakan rangsangan tambahan untuk memacu gairahnya yang mulai tersendat karena kelelahan fisik. Suara erangan yang keluar dari mulutnya kini terdengar lebih nyaring dan bergetar.

"Ngh... ah! G-Gimyung... ahh..."

Pemandangan itu benar-benar merusak pertahanan mental Gimyung. Melihat pria sombong seperti Seo Seongeun harus menyentuh dirinya sendiri demi mencari kepuasan di atas tubuhnya adalah sesuatu yang luar biasa erotis. Seongeun kini bergerak lebih liar, matanya terpejam dengan bibir yang terbuka, sementara tangannya terus meremas dadanya sendiri dengan rakus.

"Lihat dirimu, Seongeun," bisik Gimyung, suaranya mulai berat dan serak. "Kau terlihat sangat menyedihkan sekaligus sangat cantik saat sedang mengemis kenikmatan dari dirimu sendiri."

Seongeun tidak peduli lagi dengan ejekan itu. Ia terus bergerak, pinggulnya berputar lebih dalam, mencoba mencapai titik terdalam Gimyung. Namun, tenaganya benar-benar sudah di titik nadir. Gerakannya kembali melambat, dan ia mulai terisak kecil karena rasa frustrasi dan nikmat yang menggantung.

"G-Gimyung... bantu aku... aku tidak kuat lagi..." gumam Seongeun lirih, kepalanya terkulai di bahu Gimyung, air mata frustrasi benar-benar menetes sekarang. "Kumohon... gerak..."

Gimyung tetap bergeming. Ia hanya mengamati dengan tatapan yang luar biasa dingin, meski batinnya sebenarnya mulai bergejolak melihat pemandangan di depannya. Ia sengaja ingin menghancurkan kesombongan Seongeun sampai ke akar-akarnya, membiarkan pria itu sadar bahwa tanpa bantuan Gimyung, ia hanyalah sosok yang rapuh.

"Aku sudah bilang, kan? Lakukan sendiri," gumam Gimyung kejam, menatap lurus ke mata Seongeun yang mulai berkaca-kaca.

Seongeun merasa hatinya tersayat sekaligus terbakar. Rasa lelah di otot pahanya sudah mencapai batas, namun gairah yang menggantung membuatnya tak bisa berhenti. Dengan isak tangis yang mulai lolos dari bibirnya, ia terus memaksakan pinggulnya naik dan turun meski gerakannya kini mulai tidak beraturan dan gemetar hebat.

Karena merasa Gimyung benar-benar tidak akan membantunya, Seongeun menjadi semakin putus asa. Demi mencapai pelepasan, tangan kanannya terus meremas dan memelintir putingnya sendiri dengan kasar, menciptakan rasa sakit yang bercampur nikmat yang menyengat. Sementara itu, tangan kirinya turun ke bawah, menggenggam miliknya sendiri yang sudah sangat tegang dan mulai mengocoknya dengan ritme yang cepat dan berantakan.

"Hiks... G-Gimyung... ah! Brengsek kau... ahh!"

Suara isakan Seongeun beradu dengan bunyi decapan basah dari penyatuan mereka dan suara napasnya yang tersengal. Pemandangan itu luar biasa kacau Seongeun kini menangis frustrasi sambil menyentuh dirinya sendiri di hadapan pria yang paling ia benci sekaligus ia cintai.

Ia bergerak semakin liar, seolah-olah sedang menghukum dirinya sendiri. Air matanya jatuh, namun tangannya tidak berhenti bekerja. Ia mengocok miliknya sendiri dengan rakus, sementara pinggulnya terus menghantam Gimyung demi mendapatkan kenikmatan yang ia butuhkan.

"Lihat... hiks... aku melakukannya... aku melakukannya sendiri!" seru Seongeun dengan suara pecah, menantang Gimyung melalui tangisannya.

Seongeun sudah berada di puncak. Tubuhnya menegang, tangannya bergerak semakin cepat pada dadanya dan miliknya sendiri, sementara isakannya berubah menjadi erangan panjang yang memilukan.

Gimyung yang melihat itu mulai kehilangan kendali. Otot-otot lengannya menegang, tangannya yang tadi terlipat santai kini mulai mengepal kuat di sisi kepalanya. Ia tidak menyangka Seongeun akan bertindak sejauh ini, menangis frustrasi sambil menyentuh dirinya sendiri di atas tubuhnya. Persetan dengan hukuman, persetan dengan janji untuk tidak bergerak.

Dengan gerakan secepat kilat, Gimyung menyambar pinggang Seongeun. Tenaganya yang luar biasa besar membuat Seongeun tersentak dan dalam sekejap mata sudah berpindah posisi, jatuh terlentang menghantam kasur dengan bunyi 𝘨𝘦𝘥𝘶𝘣𝘳𝘢𝘬 yang teredam.

"Cukup, Seongeun. Kau benar-benar ingin membuatku gila, hah?" suara Gimyung terdengar seperti geraman rendah yang penuh nafsu yang sudah meluap.

Tanpa memberikan kesempatan bagi Seongeun untuk menghirup oksigen, Gimyung menarik kedua kaki pria itu ke atas. Ia menekuknya begitu dalam hingga lutut Seongeun hampir menyentuh telinganya sendiri—sebuah posisi yang sangat terbuka, sangat merendahkan, dan membuat Seongeun tidak memiliki ruang untuk melarikan diri.

"A-ah! Gimyung—!"

𝘗𝘓𝘈𝘗

Suara hantaman kulit yang bertemu kulit menggema di kamar itu saat Gimyung mulai memompa dengan kekuatan yang jauh berbeda dari gerakan Seongeun tadi. Gimyung bergerak dengan ritme yang brutal, menghantam titik terdalam Seongeun tanpa ampun.

"Tadi kau bilang ingin aku membantu, kan?" Gimyung menggeram, setiap kata yang keluar diiringi dengan sentakan yang membuat kepala Seongeun membentur sandaran ranjang berkali-kali. "Sekarang terima ini! Jangan berani-berani menutup matamu!"

Seongeun sudah tidak bisa lagi membentuk kata-kata yang jelas. Isakannya yang tadi penuh frustrasi kini berubah menjadi teriakan-teriakan tertahan yang memenuhi ruangan.

"Ngh! A-ah... G-Gimyung! H-henti... ahhh!"

Gimyung tidak mendengarkan. Ia justru semakin mempercepat temponya, tangannya mencengkeram paha Seongeun hingga meninggalkan bekas memar kemerahan yang kontras dengan kulit putih pria itu.

"Ngh—ah! G-Gimyung... pelan... k-kau akan menghancurkanku!" teriak Seongeun dengan suara yang hampir habis. Matanya membelalak, air mata terus mengalir membasahi pelipisnya saat ia merasakan setiap inci dari Gimyung menghantam titik paling sensitifnya secara berulang-ulang.

Gimyung justru semakin mempererat cengkeramannya pada paha Seongeun, menariknya lebih dekat hingga pinggul mereka bertabrakan dengan bunyi yang nyaring.

"Kau yang meminta ini, Seongeun! Kau yang ingin tahu bagaimana rasanya aku yang bergerak, kan?!" Gimyung menggeram, keringatnya menetes jatuh mengenai wajah Seongeun.

Puncaknya sudah di depan mata. Gimyung bisa merasakan otot-otot di dalam sana menjepitnya dengan sangat ketat, sebuah pertanda bahwa Seongeun sudah mencapai batas maksimalnya. Gimyung pun tidak lagi menahan diri. Ia mempercepat temponya secara brutal, melakukan serangkaian hentakan dalam yang membuat Seongeun hanya bisa mendongakkan kepala dengan mulut terbuka tanpa suara.

"Ah... Seongeun...!"

Dengan satu sentakan terakhir yang paling kuat dan dalam, Gimyung melepaskan semua spermanya. Ia menanamkan dirinya sedalam mungkin, membiarkan kehangatan yang meluap memenuhi tubuh Seongeun.

Seongeun menyentak hebat, tubuhnya gemetar dari ujung kepala hingga ujung kaki sebelum akhirnya terkulai lemas di atas kasur. Dunianya terasa putih sesaat, kesadarannya nyaris hilang.

Hening menyergap ruangan, hanya menyisakan suara napas berat Gimyung yang masih terengah di ceruk leher Seongeun. Gimyung tidak langsung menjauh; ia membiarkan berat tubuhnya menindih Seongeun, seolah menandai bahwa pria di bawahnya ini telah kalah telak dan tidak memiliki daya lagi untuk melawan.

Seongeun menatap langit-langit dengan pandangan kosong, dadanya naik turun dengan tidak beraturan. Di antara rasa lemas dan nikmat yang masih berdenyut, terselip satu pikiran pahit di kepalanya.

"Sialan... besok aku benar-benar tidak akan bisa berjalan tegak di depan Junggoo."

Gimyung belum berniat membiarkan Seongeun beristirahat. Meskipun tubuh pria di bawahnya itu masih gemetar dan napasnya belum kembali teratur, Gimyung menarik paksa tubuh Seongeunagar bangkit dari posisi terlentangnya.

"Kau pikir sudah selesai?" bisik Gimyung.

Dengan paksa, Gimyung membalikkan tubuh Seongeun hingga ia berada dalam posisi menungging, bertumpu pada lutut dan sikunya yang masih lemas. Gimyung menarik pinggul Seongeun agar naik lebih tinggi, memamerkan bagian belakangnya yang kini berkedut tampak kemerahan dan basah,bsebuah pemandangan yang membuat gairah Gimyung kembali membuncah.

"Ngh... G-Gimyung... jangan lagi..." rintih Seongeun, kepalanya terkulai ke bantal, tangannya mencoba menutupi lubangnya.

Gimyung tidak memedulikan rengekan itu. Ia memposisikan dirinya tepat di belakang Seongeun, lalu membungkuk "Tidak perlu kau tutupi, Seongeun," Gimyung menggeram rendah, tangannya meremas kasar bokong Seongeun. "Lubangmu itu sudah longgar sekali"

Gimyung menyingkirkan tangan Seongeun dari lubangnya dan kembali masuk dengan satu sentakan dalam, membuat Seongeun memekik keras.

"Ah! Gimyung—!"

"Kau tahu? Kau terlihat seperti pelacur dengan posisi seperti ini," lanjut Gimyung, suaranya sengaja dibuat mengejek namun penuh nafsu. "Lubangmu menjepitku begitu erat, seolah-olah dia memohon agar aku menghancurkannya lagi. Apakah teman-temanmu tau kalau lubangmu seenak ini?"

Seongeun menggelengkan kepalanya frustrasi. Kata-kata kotor Gimyung menyerang mentalnya lebih hebat daripada serangan fisiknya. Ia merasa sangat terhina, namun di saat yang sama, ia membenci kenyataan bahwa kata-kata itu justru membuatnya semakin terangsang. Bagian depannya kembali menegang keras hanya karena mendengar betapa rendahnya ia di mata Gimyung saat ini.

"J-jangan bicara... ngh... hentikan..."

"Kenapa?" Gimyung mempercepat temponya, menghantam pinggul Seongeun dengan irama yang brutal. "Atau kau justru suka dipanggil pelacur?"

Gimyung mencengkeram rahang Seongeun, memaksanya untuk menatap ke arah cermin besar yang berdiri di sudut kamar. Gimyung yang tampak begitu perkasa kontras dengan Seongeun yang berantakan.

"Lihat baik-baik, Seongeun. Tatap tubuhmu sendiri di cermin itu," bisik Gimyung tepat di telinganya, suaranya berat dan penuh otoritas. "Lihat bagaimana direktur yang agung ini gemetar hanya karena aku menyentuhnya. Apa menurutmu bawahanmu akan tetap menghormatimu jika dia melihatmu seperti ini? Menungging seperti binatang, memohon agar aku tidak berhenti?"

Seongeun mencoba memejamkan mata, namun Gimyung menarik rambutnya lebih kencang. "Buka matamu! Jangan berani berpaling," geram Gimyung. Ia memperlambat gerakannya, melakukan dorongan yang sangat dalam dan lambat, seolah ingin Seongeun merasakan setiap inci dari penisnya. "Katakan padaku, siapa yang bisa membuatmu menangis seperti ini?"

Seongeun terisak. Dadanya naik turun dengan liar, menyentuh permukaan kasur setiap kali Gimyung menghantamnya dari belakang. "Hiks... k-kau... Gimyung... kau..."

"Aku tidak dengar, Seongeun. Katakan lebih jelas sambil menatap dirimu di cermin itu."

Seongeun menelan ludah, suaranya parau dan bergetar hebat. "A-aku... aku milikmu... Kim Gimyung. Aku hanya... hiks... milikmu..."

Mendengar pengakuan itu, Gimyung menyeringai puas. Ia melepaskan tarikan rambutnya dan beralih mencengkeram pinggang Seongeun hingga kukunya meninggalkan bekas di kulit putih itu. Ia mulai memacu ritmenya kembali ke kecepatan yang brutal. Suara hantaman kulit dan decapan basah bergema semakin kencang, memenuhi kamar yang pengap oleh aroma sperma.

Ronde kedua ini berlangsung jauh lebih lama dan menyiksa bagi Seongeun. Gimyung sengaja bermain dengan ketahanan tubuh Seongeun, berhenti sejenak saat Seongeun hampir mencapai puncak, lalu kembali menghantamnya tanpa ampun sebelum ia sempat bernapas.

"G-Gimyung... kumohon... ah! Aku sudah... aku sudah tidak kuat!" teriak Seongeun, tubuhnya berkedut hebat. Air matanya kini benar-benar membasahi bantal, bukan hanya karena nikmat, tapi karena ia merasa benar-benar dikuliti harga dirinya.

"Kau tidak boleh keluar sebelum aku mengizinkannya," bisik Gimyung licik. Ia terus memompa, menyerang titik-titik saraf Seongeun dengan presisi seorang petarung.

Seongeun merasa otaknya seolah mencair. Ia tidak bisa lagi berpikir. Setelah waktu yang terasa lama, Gimyung akhirnya merasakan akan 𝘤𝘶𝘮. Ia mengerang rendah, menyandarkan keningnya di punggung Seongeun yang basah oleh keringat, dan memberikan rentetan dorongan terakhir yang paling dalam.

"Ah... Seongeun...!"

Keduanya mencapai puncak secara bersamaan menghabiskan sisa-sisa tenaga mereka. Tubuh Seongeun mengejang satu kali lagi sebelum akhirnya ambruk total, wajahnya terbenam di bantal. Gimyung melepaskan pautannya, membiarkan tubuhnya jatuh di samping Seongeun yang sudah tidak berdaya.

Hening.

Seongeun bahkan tidak punya tenaga untuk menarik selimut. Ia hanya berbaring di sana, menatap kosong ke arah kacamata mahalnya yang tergeletak malang di lantai.

"𝘎𝘪𝘮𝘺𝘶𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘫𝘪𝘯𝘨𝘢𝘯"

Notes:

Find me on X @claiirthelune!
Plss like and comment. Cz your support will be my motivation♡