Actions

Work Header

The lord Megatron problems

Summary:

Seorang ayah manusia terbangun sebagai Megatron dan sama sekali tidak tahu apa yang sedang dia lakukan.

-

Disclaimer: Cerita ini merupakan gabungan berbagai continuity Transformers dan tidak mengikuti satu seri tertentu secara penuh.

Notes:

Ini adalah fanfic AO3 pertamaku, maaf jika ada kesalahan.😭

Chapter 1: Hari pertama datang

Chapter Text

Megatron berubah? Tidak, itu tidak mungkin. Starscream tidak bisa mempercayainya, karena selalu disisinya dia memang bisa merasakan sesuatu yang aneh namun Megatron tetap Megatron yang dia tau.

Di lorong kapal, yang gelap dengan sinar luar melewati jemdela dari cybertronia yang telah hancur. Starscream mencoba menemui Megatron di ruang komando. Sudah hampir beberapa lingkaran mereka dipermukaan cybertronia yang hancur dan penuh mayat. Dia tidak begitu mengerti kenapa Megatron ingin mereka tinggal, namun dia percaya. Megatron pasti menyembunyikan rencana besar.

Pintu besar itu mengeser begitu dia lewat, Starscream bisa melihat bayangan Megatron, duduk di kursi komando membelakanginya.
"Lord Megatron, aku membawa apa yang anda minta".

Suara gesekan kursi terdengar keras di ruangan tu, kursi Megatron berbalik. Mata merah nya terasa menusuk saat Starscream terpaksa menundukkan kepalanya atas beban paksaan itu.

"Berikan padaku", suara Megatron menggema. Berat dengan penuh perintah, tanpa pikir panjang Starscream memberikan tab yang dia bawa kepadanya. Sebelum Starscream sempat menunjukkan apa yang dia temukan, Megatron memberinya sinyal tangan. Secara praktis menyuruhnya pergi.

"Apanya yang berubah, dia sama saja!", suara geraman kesal Starscream terdengar melewati lorong sepi saat dia pergi.

Megatron menatap keluar jendela, sebuah planet tanpa oksigen dengan pemandangan penuh mayat robot dan permukaan gersang. Beberapa bot terbang melewati jendela, dia mendongkak menatap cakrawala.

Dengan laporan ditangan, dia sendiri tidak tau bagaimana dia bisa datang. Dan dia tidak mau mengingat betapa kagetnya dia saat itu.

 

Sesuatu tiba tiba menariknya dari kegelapan, dia ingat, sedetik lalu dia baru saja mengantar anak perempuannya kesekolah dan tiba tiba semuanya gelap. Dia terjatuh terduduk, teriakan terdengar.

Dia menatap sekeliling, penuh kekacauan. Robot robot saling bertarung, ruangan kekacauan mesin, teriakan kesakitan dan kemarahan menjadi satu irama yang menggangu. Dia seperti terlindung, sebuah robot seperti melindunginya dari depan. Teriakan seperti, panggilan memenuhi telinganya.

Dia memegang dadanya, perasaan panik memenuhinya.

Kosong.
Tidak ada tarikan paru paru yang dia harapan.
Dia tidak merasakan detak jantung.
Hanya dengungan reaktor yang berdenyut di dalam dadanya.
Hanya getaran
Getaran mesin

Tidak, dia tidak bernafas. Setiap kali tangannya menjelajahi tubuhnya dengan panik, semakin dia tidak mengenal dirinya.
Dia kembali menatap sekeliling, ini bukan halaman belakangnya, ini bukan garasi rumahnya, ini bukan tempat parkir sekolah anaknya. Dia ditempat yang sama sekali berbeda.

Tidak.

Tidak.

Tidak! Dia menatap robot di depannya.

Teriakan.

Cahaya menyilaukan.

Sebelum sempat berpikir, tubuhnya bergerak sendiri.
Tangannya meraih robot itu dan menariknya menjauh.
Sedetik kemudian ledakan menghantam tempat mereka berdiri.
Dan pandangannya memburam, ini mimpi. Pasti cuma mimpi. Dan dia akan terbangun didalam mobil dengan radio anak anak yang lupa dia matikan.

Dia menatap tangannya dengan tajam, ini bukan tangannya. Ini bukan mimpi, tubuhnya menjadi seperti besi.

"Lord Megatron! Kau kenapa? Jelas para Autobots itu telah melakukan sesuatu! Ini tidak bisa dibiarkan!", suara melengking membuatnya menoleh.

Dia melirik ruangan itu, tembok, dan semuanya. Semuanya besi, apa dia pergi ke tempat eksperimen atau dia tiba-tiba jadi partisipan dadakan untuk proyek pemerintah? Tunggu, bagaimana soal anaknya?

Dan, siapa itu Lord Megatron? Kenapa dia seperti memanggilku?

"Keluar", ucapnya refleks. Dan yang mengejutkan, mereka benar-benar keluar tanpa bertanya lagi. Itu memberinya waktu lebih lama untuk kembali memeriksa sekitar.

Dia menatap punggung para robot itu lebih lama sebelum melihat kearah tangannya, itu terasa aneh, keras, tidak seperti tangan lamanya yang kasar dan panas. Dia mungkin harus mencari cermin atau kamar mandi, untuk melihat wujudnya namun dia mempertanyakan hal itu
Karena sejujurnya, dia bahkan ragu orang orang ini punya kamat mandi.

Tentang seperti kenapa mereka memanggilku Lord Megatron? Itu namaku sekarang atau mereka benar benar mengunakan frasa "Lord" padaku? Itu aneh, apa aku semacam pemimpin? Acara prank macam apa ini? bukankah ini termasuk penculikan? Bagaimana dengan mobilnya? Ini pukul berapa? Bagaimana dengan anaknya?

Dia berdiri, langkahnya berat dengan suara dengungan mesin yang terdengar dari dadanya. Itu aneh, ini sungguhan dan itu menakutkan.
Begitu pintu geser itu terbuka, dia menoleh tanpa sadar. Sebuah robot berdiri di pintunya, diam tanpa suara dan begitu dia menatap nya. Robot itu berbalik, namun masih tidak bersuara.

Dia tidak merasa harus menyapanya, namun dia merasa seperti mengharapkan sapaan. Apa apaan ini? Dia berbalik, lalu berjalan tanpa arah. Robot itu mengikutinya dari belakang.

Lorong demi lorong, beberapa robot lewat namun mereka sepertinya tidak berani menatapnya. Apa dia berkuasa?

Sebelum langkahnya berhenti di sebuah jendela lebar, sebuah kegelapan dengan titik titik yang bersinar. Bukan, jelas bukan bumi dan bukan layar televisi atau monitor. Ini lebih canggih, ini bukan bumi. Sama sekali bukan...

Ini dimana?
Siapa aku?!

Dia memukul jendela itu dengan keras hingga seluruh tempat itu terasa bergetar untuk sesaat. Begitu dia mendekat, dia menatap bayangan di kaca. Sebuah wajah robot dengan helm putih, wajahnya terlalu dingin, terasa mengintimidasi. Ini sudah bukan aku lagi, pikirnya.

Dia tidak tau mau bagaimana lagi.
Dia... Ingin kembali.
Seseorang harus bertanggung jawab atas ini!

-

Kakinya melangkah entah kemana, robot di belakangnya mengikuti seperti anjing, dan dia tidak punya ide apa yang harus dia lakukan sekarang.

Punggungnya tegak, seakan dia terbiasa dengan postur tentara seperti ini. Ini terlalu disiplin, pikirnya. Dari lorong gelap itu, dia melihat beberapa robot melewatinya dengan menundukkan kepalanya. Sepertinya itu sebuah konfirmasi, dia benar-benar "Lord". Dia juga yakin satu hal, sepertinya hampir ada robot yang sama baru melewati lorong itu lagi dan menunduk padanya dua kali. Atau- ada robot kembar disini?

Hingga dia sampai, di pintu besar. Entah kenapa kakinya menuntunnya kesini, begitu pintu itu bergeser. Sebuah ruang komando(?), dengan layar, tombol dengan beberapa robot yang terlihat fokus dan sebuah panggung mini ditengah.

"Lord Megatron! Anda disini!", sebuah suara melengking membuatnya menoleh. Sebuah robot dengan helm hitam, suaranya agak menganggu.

Dia memiringkan kepalanya kesamping, tiba-tiba sebuah keheningan muncul. Dia melirik robot tadi, dia terlihat menunduk takut. Apa yang terjadi?

-

Megatron berdiri di tengah panggung, tubuhnya yang tegak dan besar terasa mengancam.

Starscream menunduk dengan takut, ini aneh. Sejak bangun dia merasa sesuatu berubah, namun dia tidak tau apa. Walau Shockwave sudah mengkonfirmasi bahwa spark nya masih sama, dia tidak bisa menghapus pikiran itu begitu saja.

Megatron tetap berdiri dalam diam saat matanya seperti mengawasi seluruh ruang komando, Soundwave disisi lain melangkah mundur, membiarkan sang lord punya momennya.

"Laporan", ucapan Megatron membuat ruangan terkejut saat Starscream tiba tiba maju dan berbicara.

"Karena insiden kemarin, kita mundur dengan cepat. Beberapa persediaan masih tertinggal".
Megatron meliriknya, sebelum dia menatap para Vehicon yang masih berkerja.

"Ambil, ambil semua", sebuah perintah dari ketua Decepticon membuat Starscream segera maju. Membuat para Vehicon bergegas kembali.

Tanpa menoleh atau bertanya kelanjutannya, Megatron pergi keluar dengan langkah berat.

-

'sialan! Aku bilang apa tadi?! Ambil apanya?!'

Baginya panik saat wajahnya masih menunjukan kedinginan seorang pemimpin, dia harus pergi, mencari informasi atau apapun yang mirip.

Dia ingin ke ruangannya, yang mungkin tubuh ini punya. Tapi yang mana? Bagaimana dia tau?
Tubuhnya bergerak tanpa arah, berbelok di setiap lorong sebelum dia menuju pintu geser lain. Tubuhnya mengenal tempat ini, dia yakin itu walau bukan ingatannya.

Begitu dia masuk, dia mulai mengobrak abrik seliruh rak dan meja. "Sialan! Apa yang harus-".

Sebelum dia memikirkannya, tempat ini penuh robot dengan teknologi tinggi jadi. Mungkin bukan semacam kertas yang seharusnya dia cari, tapi semacam tablet atau monitor dan semacamnya.

Dia menekan nekan meja, tangannya menyentuh permukaan dengan samar sebelum sebuah tombol yang hampir menyatu dengan meja tanpa sengaja tertekan.

Sebuah layar hologram, penuh dengan tulisan tulisan abstrak dan aneh. "Tulisan macam apa ini? Jelek sekali seperti ulat mati, tulisan anakku lebih baik dari ini". Dia bergumam sebelum mulai mengetik, untuk kesekian kalinya dia terdiam, menatap layar hologram itu dengan bingung.
Dia tidak mengenali satu pun hurufnya. Namun setiap kata terasa masuk akal saat dibaca.

'bagaimana dia bisa membaca tulisan jelek ini?'.

-

"Menurut mu dia akan marah? Apa kita akan merampas lagi nanti? Hampir setengah persediaan energon sudah di curi para Autobots!"
Suara nyaring Starscream terdengar, Shockwave disisi lain berjalan dengan tenang disisi nya. Sesampainya di ruangan pribadi Megatron, suara benturan keras dan disusul dengan suara Geraman mesin yang marah membuat mereka berdua saling menatap.

Starscream mengambil langkah mundur dengan refleks, "mungkin kita bisa memberitahunya nanti? Lagipula... ini tidak se-darurat itu kan?"

"Tepat sekali", balas Shockwave sebelum mereka berdua berbalik dan berjalan menjauh dengan sedikit lebih cepat.

-

Didalam, Megatron menulis cepat. Tangannya tidak berhenti menuliskan angka dan optiknya yang menatap layar dengan fokus, "135.9, 245.9... apa apaan ini? Apa itu 'stellar cycle'? Apa itu Cybertronia? Nama planet ini? Ini tanggal berapa sih?! Seseorang harus menjelaskan! Sialan!"

"Apa ini dunia fantasi?! Mech? Apa ada manusia didalam tubuhku yang tertidur dan ada saluran perasaan yang membuat— cukup!", Megatron menggebrak meja dengan keras dan membuat ruangan bergetar. Dia berdiri, bolak balik didalam ruangan dengan frustrasi. Dia tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi, apa dia harus hidup dengan ini? Ini tidak masuk akal.

Lalu dia mengingat robot dengan helm hitam dengan suara nyaring itu, "aku memberi mereka perintah tadi, jika aku mendapatkan laporan nya. Aku bisa memastikan tanggal berapa sekarang dan aku bisa membaca seluruh arsip itu tanpa ada bagian yang terbalik".

Megatron segera berjalan ke pintu, namun dia terhenti ditengah tengah. Optiknya menatap tembok sebelum kearah langit langit, "siapa nama nya tadi?"